Welcome to my bLog..ciee..hehehe
Oya btw diBLog ini w isi tentang Bencana alam yang terjadi diindonesia..ga byk cie tp dah ngewakilin smuanyalah..Oya jgn lupa kasih comment yaa…
salam damai dari the sigit..^^
peace..love n gaul..hahahaha
SENIN, 04 FEBRUARI 2008 00:00 WIB
Pada waktu turun hujan, air akan menyusup ke bagian tanah yang retak sehingga dengan cepat tanah akan mengembang kembali. Pada awal musim hujan dan intensitas hujan yang tinggi biasanya sering terjadi kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat.
Hujan lebat yang turun pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral.
Dengan adanya vegetasi di permukaannya akan mencegah terjadinya tanah longsor, karena air akan diserap oleh tumbuhan dan akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah.
Lereng atau tebing yang terjal terbentuk akan memperbesar gaya pendorong. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 derajat, apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.

Begitu banyak informasi yg mungkin mengakibatkan salah pengertian. Salah satunya adalah pengertian ramalan, antisipasi, earlywarning (peringatan dini) dan istilah kebencanaan yang lain yg berasal dari beberapa tulisan yg ditulis oleh para ahli kebumian.
Hampir semua ahli kebencanaan alam (gempa, tanah longsor, banjir dll) sering menggunakan antisipasi akan datangnya sebuah kejadian bencana, banyak yg menyebutkan juga istilah gempa 100 tahunan, gempa 50 tahunan, atau 250 tahunan, berikutnya nanti gempa bulanan dan harian Hal ini juga berlaku bagi banjir 50 tahunan, 100 tahunan dsb.
Apa iya kalau sudah terjadi kejadian bencana yg disebutkan sebagai bencana 100 tahunan, maka kejadian lainnya yang besarnya sebesar 100 tahunan baru akan terjadi 100 tahun lagi ?
Bukan begitu tentu maksudnya…. karena gejala yg sebesar 100 tahunan bisa saja terjadi dalam kurun waktu kurang dari 100 tahunan …. Salahsatunya seandainya ada sebuah periodisitas yg munculnya lebih lama dari 100 tahunan …. wah bikin mumeth ya ?
Antisipasi itu mempunyai selang waktu juga periodisasinya hanya berdasarkan catatan yg sudah ada saja, baik catatan sejarah maupun catatan di alam. Gempa yang besarnya seperti gempa 100 tahunan bisa saja terulang dalam waktu 10 tahun berikutnya. Hal ini seperti yang terjadi di Chile menurut Pak Danny Hilman Natawijaya peneliti gempa-bumi di Indonesia. Belajar dari zona subduksi di Pacifik (Kamtchaka – Chile), pernah terjadi 7 gempa besar hanya dalam kurun waktu 10 tahun, dari 1955 – 1965.
Nah yg terpenting adalah pengenalan daerah-daerah potensial bencana. Pengenalan daerah-daerah yg memiliki peluang besar mengalami bencana. Kenalilah daerah sekelilingmu. Ketahui potensi bencana apa yg ada disekitarmu. Dan yg lebih penting lagi, kalau terjadi kemana harus menyelamatkan diri.
Jadi jangan tunggu ramalan ya !
Antisipasi itu mengajak kita untuk selalu waspada.
Evakuasi pencarian korban tanah longsor menggunakan dua alat berat dan dibantu anggota TNI, Polri, Brimob, partai politik, serta warga sekitar tanah longsor.
Bupati Karanganyar Rina Iriani SR menyaksikan langsung proses evakuasi korban yang hingga Jumat siang masih berlangsung. Pada evakuasi Jumat (28/12) sampai pukul 14.300 WIB ditemukan tujuh orang meninggal sehingga hingga kini yang telah ditemukan 24 orang, semuanya meninggal dunia.
Tujuh korban yang ditemukan itu yakni Bejo, 50, Harsi, 32, Mujinem, 39, Latif (delapan bulan), Muryani, 24, Parni, 27, dan Machmud, 3.
“Setiap ada korban yang ditemukan, jenazahnya langsung kami serahkan kepada keluarga dan juga langsung dimakamkan,” kata Rina Iriani SR.
Penncarian korban tanah longsor ini memang cukup berat karena hanya menggunakan dua alat berat berukuran kecil, sementara timbunan tanah langsor kedalamannya hingga tujuh meter.
“Cukup sulit untuk mencari korban karena korbannya berada di bawah rumah yang tertimbun tanah sampai tujuh meter,” katanya.
Mengenai bantuan, ia mengatakan terus mengalir baik untuk makanan, air mineral, dan lain-lain yang berasal dari masyarakat dan dari Gubernur Jawa Tengah Rp20 juta, Bakornas Rp50 juta, Bank Indonesia Rp100 juta, Bank Rakyat Indonesia Rp10 juta. (Ant/OL-03)
Lokasi gempa menurut Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia terjadi di koordinat 8,007° LS dan 110,286° BT pada kedalaman 17,1 km. Sedangkan menurut BMG, posisi episenter gempa terletak di koordinat 8,26° LS dan 110,31° BT pada kedalaman 33 km. USGS memberikan koordinat 7,977° LS dan 110,318 BT pada kedalaman 35 km. Hasil yang berbeda tersebut dikarenakan metode dan peralatan yang digunakan berbeda-beda. Secara umum posisi gempa berada sekitar 25 km selatan-barat daya Yogyakarta, 115 km selatan Semarang, 145 km selatan-tenggara Pekalongan dan 440 km timur-tenggara Jakarta. Walaupun hiposenter gempa berada di laut, tetapi tidak mengakibatkan tsunami. Gempa juga dapat dirasakan di Solo, Semarang, Purworejo, Kebumen dan Banyumas. Getaran juga sempat dirasakan sejumlah kota di provinsi Jawa Timur seperti Ngawi, Madiun, Kediri, Trenggalek, Magetan, Pacitan, Blitar dan Surabaya.
70% rumah di kecamatan Jetis rata dengan tanah
Gempa susulan terjadi beberapa kali seperti pada pukul 06:10 WIB, 08:15 WIB dan 11:22 WIB. Gempa bumi tersebut mengakibatkan banyak rumah dan gedung perkantoran yang rubuh, rusaknya instalasi listrik dan komunikasi. Bahkan sampai H + 7 sesudah gempa, banyak lokasi di Bantul yang belum teraliri listrik. Gempa bumi juga mengakibatkan Bandara Adi Sutjipto ditutup sehubungan dengan gangguan komunikasi, kerusakan bangunan dan keretakan pada landas pacu, sehingga untuk sementara transportasi udara dialihkan ke Bandara Achmad Yani Semarang dan Bandara Adisumarmo Solo.

Sabtu pagi 13 hari yang lalu, 29 Rabi’ul Tsani 1427 (27 Mei 2006) pukul 05.53 WIB, sebagian orang masih terlelap, bermalas-malasan, memulai kegiatan, dan sebagian yang lain sudah beraktivitas di luar rumah. Hingga goncangan itu terjadi. Banyak yang berhamburan keluar, namun ada juga yang tetap bertahan di dalam karena kaki terasa sangat sulit untuk menapaki lantai. Goncangan terasa begitu kuat dengan durasi yang cukup lama.
Setelah goncangan berhenti, ramai-ramai pada menghubungi/dihubungi keluarga yang ada di luar kota. Ternyata keluarga yang tinggal cukup jauh dari Yogyakarta pun juga dapat merasakannya.
Awalnya ada yang mengira-ira ini karena ulah Sang Merapi yang berdiri angkuh di utara sana. Oh, bukan. Ini terlalu besar. Terlalu lama. Terlalu jauh jangkauan getarannya. Ini pasti tektonik. Dari arah yang biasa menimbulkan gempa di sini. Dari laut selatan. Ini mungkin dari sana.
Tak disangka, korban jiwa begitu besar jumlahnya. Ternyata bencana besar itu juga terjadi di sini, bukan hanya di pulau seberang yang jauh di mata, yang hanya dapat disaksikan melalui layar TV ataupun media cetak. Di sini. Di tanah ini.
Teringat akan “10.5″. Sebuah film tentang rangkaian beberapa gempa besar yang terjadi dalam satu hari hingga mengubah peta geografis, membelah pulau. After-shock (kita menyebutnya sebagai gempa susulan) selalu mengalami peningkatan kekuatan getaran dibanding gempa sebelumnya. Akhirnya, gempa utama terjadi di kali yang terakhir dengan kekuatan 10,5 R. Maaf, bukan bermaksud untuk menambah kecemasan.

Yogyakarta (ANTARA News) – Sebanyak 2.800 warga korban gempa bumi 27 Mei 2006 mengadu ke Pemerintah Kabupaten (pemkab) Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), karena mereka merasa tidak puas akan hasil pembagian dana rekonstruksi.
Menurut Kepala Bagian Adminstrasi Pembangunan Bantul, Didik Warsito, di Yogyakarta, hingga hari terakhir dibukanya posko pengaduan pada Jumat, warga masih terus berdatangan untuk mengadukan nasibnya, baik dengan cara berkelompok, maupun satu per satu.
“Kebanyakan aduan yang masuk menginginkan `naik kelas` dari kategori rusak ringan yang mendapat bantuan satu juta rupiah menjadi rusak sedang dengan besar bantuan empat juta rupiah setiap Kepala Keluarga (KK),” katanya.
Ia mengatakan, setelah penutupan ini diharapkan tidak ada lagi aduan yang masuk agar masalah rekonstruksi segera terselesaikan.
Selanjutnya, pemkab bersama jajaran terkait akan menindaklanjuti aduan itu dengan melakukan verifikasi.
Pemkab tidak menentukan kuota penerima bantuan hasil verifikasi tersebut, sehingga korban gempa yang terbukti berhak menerima bantuan, akan diupayakan mendapatkannya.
Tetapi, mengenai jumlah dan asal dana yang disiapkan pemkab, menurut dia, sampai saat ini belum diketahui secara pasti, karena kebijakan sepenuhnya ada di tangan Buapti Bantul, Idham Samawi.
Sementara itu salah seorang pengadu, Ny Adi Taryono (58), warga Dusun Bantulan, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, berharap, anaknya yang sudah berkeluarga memperoleh jatah dana rekonstruksi.
“Dalam satu rumah kami ditempati oleh tiga keluarga, tetapi hanya saya sendiri yang memperoleh jatah,” katanya.
Wanita yang ditinggal mati suaminya dalam gempa bumi berkekutan 5,9 pada Skala Richter tersebut merasa kecewa karena sebelumnya ia tidak memperoleh konfirmasi mengenai pendataan yang tidak mencantumkan nama anaknya itu.(*)
ANAK-ANAK DI LOKASI BANJIR ACEH UTARA DIEVAKUASI
Jum’at, 11 Mei 2007 19:15 WIB
Metrotvnews.com, Aceh Utara: Tim Search and Rescue (SAR) mengevakuasi
anak-anak yang berada di kawasan banjir Aceh Utara, Nanggroe Aceh
Darussalam. Evakuasi dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan
ketinggian air naik. Apalagi, hingga kini, curah hujan di daerah
tersebut masih tinggi.
Sejumlah anggota tim SAR Aceh Utara menyisir beberapa kawasan banjir
yang dinilai rawan di Lhoksukon, Aceh Utara, dengan menggunakan perahu
karet. Mereka mengevakuasi anak-anak yang masih bertahan di rumah untuk
mencegah terjebak banjir. Anak-anak tersebut kemudian diungsikan ke
lokasi yang aman di musala desa. Di musala juga telah didirikan dapur
umum untuk membantu warga yang belum bisa kembali ke rumah masing-masing.
Hingga kini, tim SAR masih terus berjaga jaga di sekitar lokasi banjir.
Mereka akan memfokuskan bantuan terhadap warga yang bertempat tinggal di
daerah aliran sungai. Warga yang masih bertahan di rumah akan dievakuasi
paksa bila ketinggian air semakin tinggi.(BEY)
Lokasi genangan banjir di Jakarta, 1 Februari 2008
Wilayah-wilayah di DKI Jakarta yang tergenang banjir pada hari ini, Jum’at
1 Februari 2008 sampai dengan pukul 14.00 WIB adalah sebagai berikut:
* Jakarta Pusat : Cempaka putih tinggi air mencapai 30 cm, Cempaka Mas 10 -
15 cm, Petamburan 50 cm – 1 m, Kemayoran 5-50 cm, Kebon kosong 15-30 cm,
Sumur batu 40 cm, Serdang 20-70 cm, Harapan Mulya 30-50 cm, Cempaka Baru 20
cm – 1 m, Gunung sahari selatan 20-50 cm, Gambir 5 cm.
* Jakarta Utara : Penjaringan tinggi air mencapai 15-30 cm, Pejagalan 10-20
cm, Kamal Muara 30-50 cm, Kapuk Muara 20-60 cm, Pluit 15-40 cm, Semper
Timur 5-20 cm, Cilincing 10-15 cm, Pademangan 20-50 cm, Kelapa Gading
40-600 cm, Koja 10-20 cm.
* Jakarta Barat : Grogol Petamburan 10-50 cm, Palmerah 10-50 cm, Cengkareng
5-30 cm, Kalideres 40 cm, Kebon Jeruk 20-55 cm, Kebayoran Baru 20-40 cm,
Ciracas 10-60 cm, Makasar 50-80cm
Pasien anak-anak yang terkena penyakit diare dan tidak tertampung di kamar perawatan, memenuhi lorong di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Senin (12/2). Pascabanjir di Jakarta, banyak warga, terutama balita yang terserang penyakit diare. RSUD Tarakan menerima hingga 40 pasien baru per hari dari kondisi normal rata-rata 10 pasien per hari. [Pembaruan/Ruht Semiono]
[JAKARTA] Berbagai penyakit mulai menyerang warga pascabanjir besar di Jakarta. Berdasarkan laporan dari sejumlah rumah sakit serta tempat pengsungsian, penyakit diare, gangguan kulit dan leptospirosis (penyakit akibat terinfeksi virus dari kencing tikus) menjangkiti para korban banjir.
Kondisi tubuh yang lemah serta kotornya lingkungan membuat para korban banjir rentan terserang penyakit. Akibatnya, pasien di sejumlah rumah sakit di Jakarta pun melonjak tajam.
Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Budhi Asih, Jakarta Timur, misalnya, pada Senin (12/2) pagi, fasilitas perawatan yang sedianya untuk pasien demam berdarah dengue (DBD), dipenuhi korban banjir yang terserang penyakit. Lebih dari 50 pasien baru yang menderita penyakit pascabanjir.
Menurut Humas RSUD Budhi Asih Hamonangan Sirait, pihaknya masih bisa menampung pasien-pasien tersebut dengan fasilitas yang tersedia.
Penyakit yang paling banyak diderita pasien pascabanjir adalah infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), diare dan DBD .
Korban banjir lainnya juga dirawat di RSUD Pasar Rebo, Jakarta Timur. Pada Senin, pasien banjir yang terkena DBD sebanyak 52 orang. Sedangkan untuk pasien diare, sebanyak 47 orang.
Di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, jumlah pasien diare mencapai 138 orang, sebagian besar anak-anak. Banyaknya pasien menyebabkan sebagian harus dirawat di selasar. Selain diare, penyakit lain yang banyak diderita pasien adalah flu, gatal-gatal, dan leptospirosis.
Di RS Persahabatan, Jakarta Timur, sebagian pasien baru ditempatkan di tempat tidur tambahan di selasar rumah sakit. Karena keterbatasan tempat tidur kini satu tempat tidur lipat tambahan ditempati dua pasien anak. Bahkan tidak sedikit pasien yang harus berpindah-pindah membawa botol infus.
Kondisi serupa juga terjadi di RS Koja, Jakarta Utara. Hingga Minggu (11/2) siang, ada 340 pasien dan 137 pasien di antaranya menderita diare. Sisanya menderita DBD.
