kondisi gempa

Kondisi Warga FLP Yogyakarta Pasca Gempa

Sabtu pagi 13 hari yang lalu, 29 Rabi’ul Tsani 1427 (27 Mei 2006) pukul 05.53 WIB, sebagian orang masih terlelap, bermalas-malasan, memulai kegiatan, dan sebagian yang lain sudah beraktivitas di luar rumah. Hingga goncangan itu terjadi. Banyak yang berhamburan keluar, namun ada juga yang tetap bertahan di dalam karena kaki terasa sangat sulit untuk menapaki lantai. Goncangan terasa begitu kuat dengan durasi yang cukup lama.

Setelah goncangan berhenti, ramai-ramai pada menghubungi/dihubungi keluarga yang ada di luar kota. Ternyata keluarga yang tinggal cukup jauh dari Yogyakarta pun juga dapat merasakannya.

Awalnya ada yang mengira-ira ini karena ulah Sang Merapi yang berdiri angkuh di utara sana. Oh, bukan. Ini terlalu besar. Terlalu lama. Terlalu jauh jangkauan getarannya. Ini pasti tektonik. Dari arah yang biasa menimbulkan gempa di sini. Dari laut selatan. Ini mungkin dari sana.

 

Tak disangka, korban jiwa begitu besar jumlahnya. Ternyata bencana besar itu juga terjadi di sini, bukan hanya di pulau seberang yang jauh di mata, yang hanya dapat disaksikan melalui layar TV ataupun media cetak. Di sini. Di tanah ini.

Teringat akan “10.5″. Sebuah film tentang rangkaian beberapa gempa besar yang terjadi dalam satu hari hingga mengubah peta geografis, membelah pulau. After-shock (kita menyebutnya sebagai gempa susulan) selalu mengalami peningkatan kekuatan getaran dibanding gempa sebelumnya. Akhirnya, gempa utama terjadi di kali yang terakhir dengan kekuatan 10,5 R. Maaf, bukan bermaksud untuk menambah kecemasan.

Tinggalkan Balasan